Teladan dari Aisyah RA

102249Aisyah ra. Merupakan anak dari sahabat Rasululullah SAW, Abu Bakar as-Shidiq. Beliau masih terbilang sangat belia saat mendampingi Muhammad. Saat itu beliau baru menginjak usia sembilan tahun. Ensiklopedi Islam yang mengutip dari Ibnu Hisyam menyatakan,a Aisyah menikah dengan nabi Muhammad saat berusia enam tahun dengan mas kawin sebesar 400 dirham. Tiga tahun kemudian, barulah Aisyah hidup bersama dengan Muhammad setelah melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Namun, usianya yang belia tak membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sang Nabi.

Aisyah adalah figur dan potret wanita ideal. Ia memiliki hati yang lembut, penuh cinta dan kehangatan, setia, berwawasan tajam, perasa, dan menjadi sentral dalam kehidupan. Ia merupakan penebar kedamaian, kasih sayang, dan cinta. Rasulullah pernah berkata kepada Aisyah: ”Sungguh aku tahu marah dan lapangmu ketika kamu tenang,”

Aisyah istri Nabi yang sangat cerdas. Ribuan hadis Rasulullah SAW yang berbicara seputar hukum, wahyu, perilaku Nabi dan lainnya, bersumber darinya. Para perawi hadits, menyebutkan bahwa Aisyah adalah orang ketiga terbanyak setelah Abu Hurairah r.a. dan Anas bin Malik r.a. Urwah bin Zubair pernah berkata ”Aku tidak melihat seorang pun yang memiliki kepandaian dalam ilmu fiqih, kedokteran, dan orasi melebihi Aisyah.”

Dari tulisan KH. A. Mustofa Bisryi, ketika Aisyah r.a. ditanya tentang suaminya Nabi Muhammad saw, ia menjawab “Kaana khuluquhu Al-Quran.” (Pekertinya adalah Al-Qur’an). Jawaban yang singkat dan penuh makna. Jawaban ini, selain menunjukkan tingkat kecerdasan Aisyah yang tinggi, juga membuktikan tingkat pemahaman yang luar biasa dari putri sahabat Abu Bakar itu terhadap Al-Qur’an dan juga pribadi Nabi Muhammad SAW.

Kecerdasan Aisyah, membuatnya bagaikan spons yang menyerap banyak keilmuan yang berasal dari rasulullah dan para sahabat. Selain kemampuannya dalam menyerap ilmu, Aisyah juga adalah seorang guru yang andal. Guru yang memiliki lidah yang fasih dan lancar, keindahan gaya bahasa, dan tepat sasaran. Salah satu ceramah Aisyah yang terkenal dan menunjukkan ketinggian ilmu dan akhlaknya dapat kita lihat pada Perang Jamal.

Aisyah merupakan seorang isteri yang memilik sikap quwwah (keteguhan jiwa) dalam kebenaran. Aisyah tetap dalam keyakinannya bahwa ia ada dalam kebenaran, ketika masyarakat mempertanyakan tentang kesuciannya setelah kepulangannya dari Perang Bani Musthaliq. Meskipun berita tersebut menggoyahkan sempat menggoyahkan kepercayaan Rasulullah kepada beliau, Aisyah hanya bersaksi, “Demi Allah, aku tidak bertaubat kepada Allah selamanya dari apa yang Rasul katakan. Demi Allah, sesungguhnya aku tahu jika aku mengakui sesuai dengan apa yang dikatakan orang-orang, sedang Allah tahu bahwa aku bersih dari (perbuatan itu), maka sungguh aku telah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dan, jika aku mengingkari apa yang mereka katakan, mereka pasti tidak akan mempercayai dan tidak akan membenarkanku. Tetapi, aku akan mengatakan apa yang pernah dikatakan oleh Ya’kub a.s., ‘Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku), dan Allah sajalah yang dimohon pertolongannya terhadap apa yang kalian ceritakan. Allah Swt membenarkan kesucian Aisyah dalam Al-Qur’an surah An-Nur ayat 12.

Namun, karena ketawadhu’annya (kerendahan hatinya), Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang menimpaku atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman tetnangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.” (HR. Bukhari (4141))

Setelah meninggalnya Rasulullah, Aisyah ra baru berusia 18 tahun. Namun di usianya yang masih cukup muda, ia mampu secara nyata mengabdikan dirinya pada ilmu pengetahuan dengan cara membetuk madrasah. Madrasah Aisyah adalah madrasah ilmu yang paling diminati pasca wafatnya rasulullah. Beliau mendidik secara langsung semua orang yang ingin belajar padanya. Saat orang-orang bertanya, Aisyah menyimaknya dengan saksama lalu memberikan jawaban yang sebaik-baiknya yang ia ketahui. Hal itu dikarenakan Aisyah ra merupakan wanita yang cerdas dan memiliki ingatan yang kuat. Sehingga ia dapat mengingat semua pertanyaan yang pernah diajukan orang lain kepada Rasulullah Saw untuk diberitahukannya kembali kepada para penanya setelah Rasulullah Saw wafat.

Aisyah meninggal dunia di Madinah malam selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada usia 65 tahun, di masa pemerintahan Muawiyah. Beliau berwasiat untuk dishalatkan oleh Abu Hurairah dan dikuburkan di pekuburan Baqi pada malam itu juga.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Aisyah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Dan semoga kita dapat mencontoh teladan dari kecerdasan dan keteguhan hati Aisyah ra, selalu belajar dan berusaha memperbaiki diri agar dapat memahami Islam dengan baik dan benar, dan dapat memberikan manfaat yang sebaik-baiknya bagi agama, keluarga, dan masyarakat. Aamiin.

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *