Pembatal Puasa

Di tengah pandemi COVID-19 ini, kita tetap harus melaksanakan kewajiban kita di bulan Ramadan. Selain kita mengetahui dan melaksanakan kewajiban di bulan Ramadan, kita pun dituntut agar dapat menjaga diri kita dari hal-hal yang membuat puasa kita batal. Berdasarkan kitab Fath al-Qarib terdapat penjelasan mengenai perkara yang dapat membatalkan puasa, diantaranya

1. Makan, Minum, dan Segala Sesuatu yang Masuk Melalui Anggota Tubuh Berkesinambungan hingga Lambung dengan Sengaja

Makan, minum dan segala sesuatu yang masuk melalu lubang pada anggota tubuh yang berkesinambungan (mutasil) sampai lambung, dan memasukannya dengan unsur sengaja, artinya apabila perbuatan tersebut dilakukan tanpa kesengajaan atau lupa, maka tidak membatalkan puasa. Seperti yang tercantum pada kitab suci Al-Qur’an:

“…makan dan minumlah sampai waktu fajar tiba dengan dapat membedakan antara benang putih dan hitam… (QS. al-Baqarah, 2: 187)”

Sedangkan bagi mereka yang lalai melakukannya maka hal itu tidak dianggap membatalkan puasa sebagaimana diterangkan dalam hadis:

“Siapa yang lupa keadaannya sedang berpuasa, kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberikan makanan dan minuman itu”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1797 dan Muslim: 1952)”

2. Melakukan Hubungan Suami-Istri Secara Sengaja

Melakukan hubungan seksual dengan suami atau istri secara disengaja. Suatu perbuatan dapat dikatakan hubungan seksual dengan batas minimal masuknya khasafah ke dalam farji (vagina), dan apabila kurang dari itu maka tidak dikategorikan hubungan seksual dan tidak membatalkan puasa. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis shahih riwayat al bukhari:

“Dari Abu Hurairah r.a, menceritakan, seorang pria datang kepada Rasulullah s.a.w, ia berkata: “celaka aku wahai Rasulullah”, Nabi s.a.w, bertanya: “apa yang mencelakakanmu?”, pria itu menjawab: “aku telah bercampur dengan istriku pada bulan Ramadan”, Nabi s.a.w, menjawab: “mampukah kamu memerdekakan seorang budak?”, ia menjawab: “tidak”. Nabi s.a.w, betanya padanya: “mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?”, pria itu menjawab: “tidak mampu”. Rasulullah s.a.w, bertanya lagi: apakah kamu memiliki makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin?”, ia menjawab; “tidak”, kemudian pria itu duduk. Lalu Nabi diberi satu keranjang besar berisi kurma, dan Rasulullah s.a.w, berkata kepadanya : “bersedekahlah dengan kurma ini”. Pria itu bertanya: “Apakah ada orang yang lebih membutuhkan dari kami?, tidak ada keluarga yang lebih membutuhkan kurma ini selain dari keluarga kami”. Nabi s.a.w. tertawa, sehingga terlihat gigi taringnya, dan Beliau bersabda: “kembalilah ke rumahmu dan berikan kurma itu pada keluargamu”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1800 dan Muslim: 1870).”

3. Muntah Dengan Sengaja

Muntah-muntah dengan disengaja, dan apabila tanpa disengaja atau karena sakit, maka tidak membatalkan puasa sebagaimana hadis dibawah ini:

“Dari Abu Hurairah r.a, menuturkan, sesungguhnya Nabi s.a.w, bersabda: “siapa yang tidak sengaja muntah, maka ia tidak diwajibkan untuk mengganti puasanya, dan siapa yang sengaja muntah maka ia wajib mengganti puasanya”. (Hadits Hasan Gharib, riwayat al-Tirmidzi: 653 dan Ibn Majah: 1666)”

4. Keluarnya Air Mani yang Disengaja

Keluarnya air mani disebabkan bersentuhan (tanpa hubungan seksual) maka menyebabkan batalnya puasa, baik keluar dengan usaha tangan sendiri (masturbasi) atau menggunakan tangan seorang istri yang halal. Dengan kata lain, apabila keluar air mani tanpa bersentuhan semisal bermimpi basah maka puasanya tidak batal.

5. Haid atau Menstruasi

Haid, yaitu darah yang keluar dari kemaluan perempuan yang sudah menginjak usia batas minimal 9 tahun. Dengan waktu haid paling cepat selam 24 jam, ghalib-nya (keumuman) keluar darah selama satu minggu, paling lama selama 15 hari, dan jarak antara kedua masa haid batas minimal 15 hari. Darah yang keluar dari kemaluan perempuan dengan ciri-ciri seperti di atas, apabila keluar di saat seorang perempuan sedang menjalankan ibadah puasa maka puasanya batal.

6. Nifas atau Darah Setelah Melahirkan hingga Rentang Waktu 2 Bulan

Nifas, yaitu darah yang keluar dari kemaluannya perempuan setelah proses melahirkan dengan rentang waktu sampai dua bulan (ukuran maksimal) juga dapat menyebabkan batalnya puasa, apabila keluar di saat sedang berpuasa.

7. Murtad atau Keluar dari Islam

Murtad, sesuatu hal yang menyebabkan seseorang keluar dari Islam dengan (semisal) melakukan pengingkaran akan keberadaan Allah SWT sebagai zat tunggal, disaat ia sedang melaksanakan ibadah puasa, maka puasanya batal.

8. Gila

Gila yang terjadi ketika seseorang sedang mengerjakan ibadah puasa, maka puasanya batal.

Referensi

  1. Al-Ghazi M. Fathul qarib al-mujib. Jakarta: Dar Al-Kutub Al-islamiyah; 2003. p.58-9
  2. http://islam.nu.or.id/post/read/53005/batalnya-puasa
  3. http://Islam.nu.or.id/post/read/45698/delapan-hal-yang-membatalkan-puasa

2 comments on “Pembatal Puasa”

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *